The End of an Era: Bagaimana Perpisahan Adidas & Yeezy Berujung Kerugian 8 Triliun?

The End of an Era: Bagaimana Perpisahan Adidas & Yeezy Berujung Kerugian 8 Triliun?
Oleh: Lique

Dunia streetwear terguncang di akhir tahun 2022. Adidas, sang raksasa olahraga asal Jerman, mengambil keputusan paling berisiko dalam sejarahnya: memutus hubungan dengan Kanye West (Ye). Dampaknya tidak main-main, Adidas mencatat kerugian bersih sebesar 540 juta USD atau sekitar Rp8 Triliun.

Bagaimana kolaborasi paling menguntungkan dalam sejarah sneakers ini bisa hancur berantakan? Mari kita bedah perjalanannya.

1. Berawal dari Ambisi Sang Produser

Semua bermula dari Chicago. Kanye West bukan sekadar rapper; ia adalah seorang visioner. Setelah sukses besar dengan album The College Dropout, Ye mulai mengincar takhta di dunia fashion.

Karier sneakers-nya sempat mencicipi kesuksesan di Nike melalui Nike Air Yeezy (2009). Namun, karena keterbatasan kontrol kreatif dan masalah royalti, Ye memutuskan hengkang. Pada 2013, ia berpaling ke rival abadi Nike: Adidas.

2. Golden Era: Fenomena Yeezy Boost

Tahun 2015 menjadi titik balik. Rilisnya Yeezy Boost 750 dan 350 mengubah peta persaingan sneaker game secara global.

  • Hype Culture: Setiap rilis selalu sold out dalam hitungan menit dan menciptakan budaya antre yang masif.

  • Resale Value: Harga di pasar sekunder melambung tinggi, menjadikannya aset investasi bagi para reseller.

  • Dominasi Pasar: Pada puncaknya, lini Yeezy menyumbang hampir 10-15% dari total pendapatan tahunan Adidas.

3. Retaknya Hubungan Sang Kreator dan Korporasi

Memasuki 2022, "bulan madu" ini berakhir. Kanye mulai vokal di media sosial, menuduh Adidas mencuri desainnya—seperti kasus sandal Adilette 22 yang dianggap meniru Yeezy Slide—serta merilis produk tanpa persetujuannya.

Situasi memanas saat Ye memicu berbagai kontroversi publik yang membuat tekanan dari investor dan konsumen global semakin besar. Akhirnya, pada 25 Oktober 2022, Adidas resmi menghentikan seluruh produksi dan penjualan Yeezy secara instan.

4. Mengapa Kerugiannya Bisa Sebesar 8 Triliun?

Angka Rp8 Triliun ini muncul dari beberapa faktor teknis yang menghantam finansial Adidas:

  • Gunungan Stok Mati: Adidas memegang stok Yeezy siap jual senilai 1,2 miliar Euro. Karena kontrak putus, barang ini tidak bisa dipasarkan dan menjadi beban gudang.

  • Biaya Operasional: Penghentian produksi mendadak membuat Adidas tetap harus menanggung biaya vendor dan pembatalan kontrak pabrik.

  • Hilangnya Profit Margin: Yeezy adalah produk dengan margin keuntungan sangat tinggi. Tanpa Yeezy, Adidas kehilangan mesin pencetak uang utama mereka di kuartal terakhir tahun tersebut.

5. Pasca Yeezy: Apa Kabar Adidas Sekarang?

Setelah sempat terombang-ambing, Adidas akhirnya memutuskan untuk menjual sisa stok Yeezy secara bertahap mulai 2023 dan menyumbangkan sebagian hasilnya ke organisasi amal. Strategi ini perlahan menyelamatkan neraca keuangan mereka, meski lubang yang ditinggalkan Yeezy di kultur streetwear tetap sulit tergantikan.


Bagaimana Menurut Kamu?

Perpisahan ini membuktikan bahwa di dunia bisnis, sehebat apa pun sebuah produk, reputasi dan visi tetap menjadi kemudi utama. Apakah menurutmu Adidas bisa benar-benar "move on" dan menciptakan hype baru yang setara dengan era Yeezy?

Tulis pendapatmu di kolom komentar ya! Share juga artikel ini ke teman-teman sneakerhead kalian.

All Products

View all