Muhammad Rafli - Lique ID | 25 Februari 2026
Peci adalah penutup kepala berbentuk silinder atau sedikit meruncing di bagian atas, biasanya berwarna hitam dan terbuat dari bahan beludru atau kain tebal. Dalam sejarah Nusantara, peci dikenal luas di kalangan masyarakat Melayu dan Muslim sebagai bagian dari busana sehari-hari maupun pakaian ibadah.
Di Indonesia, peci sering disebut juga sebagai songkok atau kopiah. Awalnya, ia lebih identik dengan identitas keagamaan dan budaya tertentu. Namun seiring waktu, maknanya berkembang. Peci tidak lagi sekadar aksesori busana, melainkan simbol kesederhanaan, kedekatan dengan rakyat, serta identitas kebangsaan.
Perubahan makna ini tidak lepas dari peran seorang tokoh besar dalam sejarah Indonesia: Soekarno.
Dalam sejarah Indonesia, Soekarno identik dengan revolusi, perlawanan terhadap penjajahan, dan orasi yang membakar semangat rakyat. Namun ada satu elemen visual yang selalu melekat dengan Soekarno, yaitu peci hitam.
Dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams, Soekarno mengisahkan bagaimana awal mula ia memperkenalkan peci hitam beludru sebagai bagian dari jati dirinya dan simbol perjuangan rakyat.
Sebelumnya peci jadi perdebatan di kalangan para intelektual muda. Mereka mencemooh blangkon dan peci yang biasa dikenakan orang Jawa hanya dipakai oleh tukang becak dan rakyat jelata.
"Mereka mencemooh semua jenis penutup kepala yang biasa dipakai orang Indonesia, dan memilih tidak mengenakan apa-apa; begitulah cara mereka mengejek dengan halus kalangan masyarakat yang lebih rendah."
Soekarno menjelaskan, kaum inteligensia yang menginginkan tampil seperti orang Barat memilih tidak mengenakan penutup kepala sama sekali. Hal ini justru membuatnya gelisah. Ia ingin menunjukkan bahwa pemimpin sejati justru harus dekat dengan rakyat.
“Mereka seharusnya belajar, bahwa seseorang tidak akan dapat memimpin massa rakyat jika tidak masuk ke dalam lingkungan mereka. Aku memutuskan sendiri untuk menjadikan diriku bagian dari rakyat jelata. Pada rapat berikutnya, aku bermaksud memakai peci.”
Soekarno melangkah masuk dengan peci hitam di kepala, para peserta rapat terdiam. Semua mata tertuju padanya. Soekarno memecah keheningan. Sejak peristiwa itu, peci hitam Soekarno menjadi atribut wajib yang melekat di setiap penampilannya.
Sekarang peci hitam Soekarno bukan hanya dikenakan oleh tokoh agama atau politikus, tetapi telah menjadi bagian dari identitas kultural masyarakat Indonesia. Ia tidak lagi eksklusif sebagai simbol religius, tetapi menjadi lambang kesatuan, nasionalisme, dan kedekatan dengan rakyat.