Muhammad Rafli - Lique ID | 9 Januari 2026
Demi realita sosial yang sifatnya subjektif yaitu berupa pujian dan gengsi, kita sering kali rela mengorbankan hal-hal yang lebih objektif, bahkan yang konsekuensinya jauh lebih nyata.
Pujian, rasa bangga ketika dianggap stylish, atau gengsi karena mengenakan brand tertentu membuat banyak orang menutup mata terhadap fakta bahwa sebenarnya kita sedang digiring untuk membeli bukan karena butuh, melainkan karena ingin mendapat validasi sosial.
Di balik semua itu, banyak brand besar yang menggunakan berbagai trik manipulatif. Apalagi sekarang, dengan kompetisi yang semakin tidak terkendali, setiap brand dituntut untuk terus bersaing.
Namun, kalau dilihat dari sisi brand, mereka sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Karena pada akhirnya, sebuah brand adalah bisnis. Mereka harus menjual produk untuk mendapatkan profit, dan profit itu digunakan untuk membayar gaji karyawan, membiayai riset, hingga menjaga kelangsungan perusahaan. Masalahnya banyak brand yang menggunakan trik manipulatif contohnya adalah Neuromarketing.
Ilmu ini memanfaatkan neurosains yaitu ilmu pengetahuan tentang otak dan sistem saraf manusia dalam strategi pemasaran. Tujuannya jelas menemukan tombol beli di otak konsumen, tanpa sadar bahwa mereka sedang dipengaruhi.Dalam neuromarketing, bagian otak yang disebut prefrontal cortex, yaitu pusat logika dan rasionalitas, sengaja dibuat lemah. Prefrontal cortex manusia baru berkembang sempurna ketika dewasa. Karena itu, banyak brand sudah mulai menanamkan kecintaan pada produknya sejak dini. Misalnya, melalui iklan yang ditujukan ke anak-anak, maskot lucu, atau sponsorship event anak muda.
Hasilnya, ketika dewasa, konsumen sudah punya ikatan emosional dengan brand itu, bahkan tanpa sadar.
Selain itu, ada bagian otak lain yang jadi target, yaitu sistem limbik, dimana dengan manipulasi tertentu otak akan mengeluarkan banyak dopamin sehingga kita digiring mempunyai kesan positif kepada brandnya. Banyak orang di dunia marketing yang menganggap neuromarketing ini tidak etis. Karena pada dasarnya. Namun faktanya hampir semua brand besar melakukannya.
Fenomena ini membuktikan bahwa dunia fashion juga, tidak pernah hanya tentang kain saja. Semuanya sekarang selalu berkaitan dengan psikologi, emosi, dan cara otak kita bekerja.Sebagai konsumen, kita tentu tidak bisa sepenuhnya lepas dari pengaruh marketing. Tapi kita bisa lebih sadar. Sadar bahwa setiap iklan, setiap campaign, bahkan setiap detail desain packaging.